Sahabat Kecil
Nama :
Diffa Istu Pradana
Nim :
12001224
Kelas :
1F
Prodi :
PAI
Fakultas :
FTIK
Sahabat yang selalu mengerti dan
menolong aku di waktu aku sedang mengalami kesulitan dan mereka juga sahabat
sekaligus teman satu tongkronganku sampai sekarang, dan nama mereka adalah
Dicky, Audi, dan Legi. Mereka merupakan sahabat terbaik saya yang ada di
Pemangkat. Apalagi kalo lagi bosen aku selalu pergi bersama mereka, dari
nongkrong bareng, makan bareng, weekend bareng, dan gila-gilaan bareng hehehe.
Karena dari semua sahabat yang gua punya cuman mereke bertiga yang selalu ada
buat aku.
Dan kami berempat punya panggilan nama
masing-masing, yaitu Dicky biasa di panggil Dikay, Legi biasa di panggil Ameng,
Audi biasa di panggil Madon, dan saya sendiri biasa di panggil Diffoy. Itulah
panggilan nama kami ketika waktu ngumpul, kedengarannya sih emang aneh tapi
menurut kami inilah panggilan supaya persahabatan makin berjalan sampai kami
udah punya anak dan cucu nanti. Mereka bertiga lahir di kota yang sama namun
hanya berbeda tahun dan bulan lahirnya. Dikay lahir pada tahun 2001 bulan
Desember, Ameng lahir tahun 2003 bulan Januari, dan Madon lahir tahun 2002
bulan Agustus. Dan diantara kami berempat, saya yang lebih tua umurnya di
banding mereka. Karena saya lahir tahun 2001 bulan Oktober.
Tidak hanya itu, kami juga memiliki
ciri khas yang sangat unik. Yaitu legi dengan mulutnya yang receh, tawa nya
yang degel, dan kelakuannya yang terkadang selalu membuat kami tertawa. Dicky
dengan kelakuannya yang sering menirukan suara orang sampai kami tertawa
terbahak-bahak. Dan Audi dengan cara dia berbicara dan tertawa yang selalu
membuat kami tertawa tak berhenti dan selalu membuat tongkrongan menjadi ramai.
Dan saya sendiri bisa dibilang influencer di antara mereka bertiga, karena saya
yang selalu menciptakan gaya-gaya alay lewat foto dan tiktok sehingga mereka
meniru apa yang saya lakukan.
Meskipun begitu, kami tidak pernah
mengambil hati apa yang kami jadikan candaan. Kami paling anti dengan kata-kata
baperan, karena menurut kami tongkrongan tanpa canda tawa itu sepi seperti di
kuburan. Dan kami sering menghabiskan waktu hanya untuk bermain musik. Karena
tongkrongan kami memang tergila-gila dengan yang namanya musik. Dan
masing-masing dari kami memiliki genre lagu yang berbeda-beda, Dicky lebih
menyukai lagu-lagu dari Pamungkas, Nike Ardilla, dan Lagu-lagu cover, Legi
lebih menyukai lagu-lagu bergenre pop punk seperti Stand Here Alone, Superman
Is Dead, dan Remember Of Today. Audi lebih menyukai lagu-lagu yang pernah viral
pada masanya, kalo dibilang Audi orangnya nggak pernah milih-milih lagu. Dan
kalo saya sendiri lebih menyukai lagu-lagu band seperti Noah, Dewa 19, Slank,
Ungu, dan Ada Band. Dan setiap ngumpul kami menyanyikan lagu genre kami
masing-masing tanpa ada perselisihan.
Dan mereka juga mempunyai jalan hidup
masing-masing ketika mereka tamat SMA nanti, Legi tamat SMA ingin mengikuti tes
tentara, Dicky ingin bekerja untuk membantu memenuhi kehidupan keluarganya, dan
Audi ingin mengikuti pelatihan satpam. Tetapi itu tidak menjadi penghalang
untuk berkumpul lagi seperti biasanya. Dan ketika kami mempunyai waktu luang
kami akan berkumpul seperti biasa tanpa ada halangan.
Seiring waktu berjalan, kami
menyempatkan pergi ke Pantai Kura-kura, Singkawang untuk bersantai di kala
akhir pekan. Dan kami menemukan tempat yang sangat eksotis yang jarang dilihat
pengunjung di sana dan tidak hanya itu, kami juga mandi di pantai sekaligus
memancing di sana. Apalagi di sana bisa menikmati sunset yang indah dan sering
ter ekspos di mata masyarakat.
Tidak hanya ke pantai, kami juga
menghabiskan waktu ke mall, taman burung, dan tempat wisata lainnya yang ada di
Singkawang. Kami menghabiskan waktu seharian ke Singkawang karena pada saat itu
kami sangat bosan di Pemangkat dan tidak tau ingin kemana lagi selain pergi
jalan-jalan ke Singkawang. Karena kami juga sudah terlalu sering menghabiskan
waktu di daerah Kabupaten Sambas, termasuk di Pemangkat.
Seharian kami menghabiskan waktu
jalan-jalan di Singkawang, kami langsung beranjak pulang ke Pemangkat dan kami
tiba di Pemangkat jam 8 malam karena kami mengalami kendala di jalan pada waktu
itu, salah satu motor kami kehabisan bensin di jalan dan kami ingin mengisi
bensin tetapi pom bensin tersebut sangat jauh dari tempat kami kehabisan
bensin, tetapi kami tidak banyak berpikir karena kami ada solusinya yaitu salah
satu motor di pakai untuk di step agar bisa mengisi bensin di pom bensin dan
pada akhirnya kami tiba di pom bensin dan mengisi bensin.
Walaupun memiliki kendala, itu bukan
menjadi masalah untuk kami karena kami sebagai sahabat sudah sepakat untuk
saling tolong-menolong apapun yang terjadi. Susah senang pasti kami alami
sama-sama dan pahit manis pun kami merasakannya bersama-sama. Karena itulah
kunci dari persahabatan. Di saat aku sedang tidak punya uang untuk nyantai pun
mereka yang bayar minuman, sempat aku merasa nggak enak sama mereka tapi mereka
hanya bilang “santai, enggak usah di pikirin dan di bawa susah, kalo ada uang
kita nggak bakal lupa sama sahabat” kata mereka bilang seperti itu. Dan aku
merasa senang sekali karena dari sini aku menganggap mereka bukan hanya
sahabat, tetapi keluarga kedua untuk berbagi cerita di saat ada masalah.
Mereka sama sekali tidak perhitungan
terhadap sahabat mereka sendiri, mereka juga pernah bilang “kalau ada masalah
jangan di pendam, tapi cerita sama kita. Kita kan sahabat kamu” ucap mereka.
Aku hanya bisa tersenyum dan berterima kasih sama mereka karena mereka tidak
pernah berhenti untuk membantuku di kala aku banyak masalah. Seumur hidup aku
baru kali ini mempunyai teman sekaligus tongkrongan yang mau di ajak susah
sama-sama dan mengerti dengan kondisi teman ketika punya banyak masalah satu
sama lain.
Banyak yang bilang, katanya teman-teman
aku itu anak nakal semua dan jauh dari kata-kata rajin beribadah. Tapi aku sih
enggak masalah kalo banyak orang yang bilang seperti itu, karena menurut aku
selama mereka solid dan mengerti satu sama lain itu merupakan teman sekaligus
sahabat terbaik yang pernah ada di bandingkan memiliki teman yang baik, rajin
beribadah, dan tidak nakal tetapi tidak setia kepada teman sendiri dan masih
mementingkan ego nya masing-masing.
Berteman dengan anak-anak yang nakal jauh
lebih asik di bandingkan berteman dengan anak-anak yang baik. Karena menurut
aku anak-anak yang nakal terkadang pemikirannya jauh lebih dewasa dan anak-anak
yang baik terkadang pemikirannya masih jauh dari kata-kata dewasa dan masih
mementingkan dirinya sendiri. Menurut aku kawan yang masih mementingkan dirinya
sendiri itu tidak layak untuk dijadikan kawan. Dan itulah alasanku mengapa
Dicky, Legi, dan Audi merupakan sahabat terbaik aku. Karena walaupun mereka
nakal tetapi mereka tidak pernah mementingkan diri mereka sendiri.
Itulah biografi yang dapat saya rangkum mohon
maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan, sekian Wassalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
