Magang 1 - Kultur Sekolah
Nama : Diffa Istu Pradana
Nim : 12001224
Kelas : 4H PAI
Dari beberapa sumber yang saya amati dan saya baca, bahwasanya kultur
sekolah belum banyak diperhatikan dan dikembangkan. Sasaran peningkatan mutu
pendidikan dipandang tidak cukup hanya pada aspek proses pembelajaran,
kepemimpinan dan manajemen, kendatipun ketiga aspek tersebut pada dasarnya
memberikan kotribusi yang sangat signifikan terhadap mutu sekolah. Namun satu
aspek yang tidak dapat diabaikan sebagai penentu keberhasilan penyelanggaraan
proses pendidikan di sekolah adalah kultur sekolah. Kultur sekolah yang baik
diharapkan akan berhasil meningkatkan mutu pendidikan yang tidak hanya memiliki
nilai akademik namun sekaligus bernilai afektif.
Berbicara tentang kultur sekolah, Menurut saya sendiri kultur
sekolah adalah budaya sekolah yang dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan
masyarakat sekolah baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif sebagaimana
karakteristik kultur tersebut. Adapun kultur yang bersifat positif adalah kultur
yang mendukung peningkatan mutu pendidikan, seperti menjalin networking dalam
mencapai prestasi akademik dan non akademik, adanya subsidi silang antar
sekolah, memberi penghargaan terhadap yang berprestasi, komitmen dalam belajar,
saling percaya antar warga sekolah, dan sebagainya. Kultur yang bersifat
negatif adalah kultur yang menghambat peningkatan mutu pendidikan, seperti
banyak jam pelajaran yang kosong, siswa takut berbuat salah, siswa takut
bertanya/mengemukakan pendapat, kompetisi yang tidak sehat di antara para
siswa, perkelahian antar siswa atau antar sekolah dan sebagainya. Sedangkan
kultur yang bersifat netral adalah kultur yang tidak mendukung peningkatan mutu
pendidikan, seperti arisan keluarga sekolah, seragam guru dan karyawan, dan
sebagainya.
Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam
melakukan pendidikan yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual siswa dan
perbaikan kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan
berkembangnya kecerdasan tersebut. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang
bersifat anarkis, negatif, beracun, bias, dan dominatif. Sekolah yang hanya melihat
dan menargetkan hasil pendidikan yang berupa kemampuan intelegensi dan
mengabaikan dimensi spiritaual siswa merupakan bagian dari kultur negatif,
karena mereka cenderung tidak melakukan upaya yang mengarah kepada terbentuk
dan berkembangnya kecerdasan spiritual siswa.
Pengembangan kultur sekolah harus menjadi prioritas penting. Semua
warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kultur sekolah untuk
mewujudkan pendidikan yang bermutu. Sekolah yang berhasil membangun dan
memberikan kultur yang baik akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi baik
akademik maunpun non akademik. Artinya, dalam memperbaiki mutu sekolah tanpa
adanya kultur sekolah yang positif maka perbaikan itu tidak akan tercapai,
sehingga kultur sekolah harus menjadi komitmen luas bagi warga dan menjadi
kepribadian sekolah, serta didukung oleh stakeholder sekolah. Dengan kultur
sekolah yang positif dan mewaspadai adanya kultur negatif, maka suasana
kebersamaan, kolaborasi, semangat untuk maju dan berkembang, dorongan bekerja
keras dan kultur belajar mengajar yang bermutu akan dapat diciptakan.
Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan
konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan
positif. Dan kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah
sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu
menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada
seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan
negatif, kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan
sekolah.
Maknanya bahwa kultur sekolah dan pimpinan sekolah memiliki peran
simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Ketika
para pengambil kebijakan dan reformis pendidikan lebih menekankan pada
pentingnya struktur dan asesmen rasional, justru mengingatkan kepada kita bahwa
perubahan pada aspek tersebut tidak sepenuhnya berhasil tanpa dukungan faktor kultural.
Kultur sekolah merupakan faktor kunciyang
menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non-akademik, dan keterlaksanaan
proses pembelajaran bagi siswa.
Kultur sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan
keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona
sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai
guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi
tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang
apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik,
dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir
tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja.
Kultur sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks,
yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator
yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat
abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang
berpikir, bertindak, dan merasa. Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan
dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama
transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah.
Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan
nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol
adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok.
Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen,
dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.
Setiap sekolah memiliki kultur nya masing-masing, akan tetapi
setiap sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas dari kultur
sekolahnya masing-masing yang mana memiliki varian kulturnya masing-masing. Pengembangan
kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang
dianggap penting oleh masing-masing sekolah, seperti: visi-misi, kondisi dan
potensi sekolah.